Minggu, 30 September 2012

Segelas Teh dan Pisang Goreng

Percakapan pagi itu akan selalu ku ingat. Percakapan dengan Bapak ditemani segelas teh hangat dan beberapa potong pisang goreng buatan Ibuku. Seperti pagi-pagi sebelumnya, bangun tidur langsung kulangkahkan kakiku kearah dapur, menengok, adakah yang bisa kumakan pagi ini.
Mulanya aku dan beliau berdiskusi santai, pisang goreng yang mengepul ini sangat pas di pagi yang cukup dingin, karena kebetulan malamnya hujan turun.
Tiba ketika saat Bapak mengucapkan kalimat "Kamu harus mengangkat derajat keluarga ini" aku pun sempat terkejut, "masih pagi, tak usah terlalu serius" ucapku dalam hati. Memang wajar bila orang tua berkata seperti itu kepada anaknya, Orang tua selalu berharap nama baiknya tidak tercemar dan "syukur-syukur" bisa terangkat. Sampai saat aku menulis "curahan hatiku" ini, aku belum mencapai prestasi yang terbilang luar biasa, kalau bukan saat hari raya Bapak dan Ibuku tidak mencium dan memelukku, padahal aku ingin itu.
Rupanya inti dari pembicaraan itu Bapak berpesan agar ketika tiba saatnya nanti, ketika ku dilepas ke "alam"  janganlah aku sampai menjadi "benalu". Kira-kira begini beliau menyampaikan.
 "Nang, banyak sudah contoh saudara, kerabat dan tetangga yang hidupnya terus memakai topeng, mereka berdandan, mereka bersandiwara, mereka hipokrit dan memihak kepada orang dengan harapan mereka mendapatkan keuntungan, jauhi hal itu. Mereka bukan laki-laki, Mereka bahkan bukan manusia, mereka benalu. Mereka rela memakan kotoran dari orang-orang yang dipujanya. Kamu punya dua tangan, lakukan yang terbaik dengan tangan itu, Ambil cangkul mu, carilah sendiri, mengapa mesti takut menghadapi dunia ini sendiri?"

Bapak memang suka bermain dengan kata-kata kiasan, mungkin biar tafsirannya menjadi banyak, tapi sejauh itu aku mengerti benang merah dari nasihat yang disampaikan beliau di pagi itu.
Ada dorongan positif ketika Bapak menyampaikan hal itu, aku semakin bersemangat membuat kedua "malaikatku tersenyum". Buatku pribadi ada kerinduan ketika nasihat Bapak masuk ketelingaku (Ohhh ya Tuhan masukanlah kedua orang tuaku kedalam golongan Rasulmu, Amin). 

Teh yang kuminum telah habis dan pisang goreng yang kumakan sedang dalam menuju perjalanan kearah dubur, tapi entah mengapa ada keharuan disini. Tiba-tiba terbesit kalimat "umur manusia tiada yang tahu" sempat aku membayangkan betapa gilanya aku, ketika aku masih "mentah" sudah ditinggalkan mereka, bisa apa aku, tapi yasudahlah biar "skenario" Tuhan ingin menulis bagaimana tentang jalan cerita ini tapi yang pasti nasihat Bapak akan selalu menjadi sebuah standar dalam hidupku.


2 komentar: