Minggu, 07 Oktober 2012

Hanya Inginku

Kalau bisa ku berdiskusi dengan ruh pengisi jiwa ini

Ku ingin bertanya dengannya, Apakah ia jenuh?

Apakah ia muak dengan sang pengguna jiwa?

Akankah ia jijik?

Bila saja ia mau minum dengan gelas yang sama denganku malam ini, Aku ingin meminta nasihat

Bagaimana cara bersaing dengan waktu?

Bagaimana cara memalingkan muka dari harapan?

Bagaimana cara bersahabat dengan kemalangan dan bagaimana cara menatap ke tanah saat mendapat kemujuran?

Bila saja ia mau menghabisi malam ini bersamaku

Aku ingin bercerita banyak tentang pengalamanku selama ini

Aku ingin ia betah dalam jiwa ini

Aku ingin ia tetap bersahabatku, paling tidak sampai orang-orang sekitarku tersenyum, paling tidak sampai mimpi-mimpi itu ku genggam dan paling tidak sampai timbangan kebaikanku sedikit lebih berat dari timbangan keburukanku

Sadarkah bila kita hidup bagaikan berjalan secara perlahan, secara bersama-sama kita berjalan dengan tujuan yang sama, yaitu kesebuah bidang tanah yang lubangnya akan kita buat dengan cangkul yang kita panggul sendiri.

Sabtu, 06 Oktober 2012

Syukur

Syukur tak terhingga aku masih bernapas dan kaki ini masih menginjak bumi

Syukur tak terhingga aku masih bisa merasa bersalah ketika ku salah melangkah

Syukur tak terhingga aku masih bisa membedakan yang mana Mawar Merah yang mana Mawar Putih

Syukur tak terhingga sampai saat ini aku masih bisa mencium sedap aroma masakan Ibuku

Syukurlah . . .

Banyak sekali hal-hal yang mesti kusyukuri sampai detik ini

Aku masih bisa mengecap akan enaknya sup ayam buatan Ibuku

Aku masih bisa tertawa terbahak-bahak saat melihat sang jenaka

Aku masih bisa menikmati makan dan nonton televisi lengkap bersama keluargaku

Dan aku bersyukur masih bisa membagi waktu denganMU



  

Jumat, 05 Oktober 2012

Skenario dalam Film

Aku yang bermain peran atas skenario yang Tuhan buat

Aku yang berharap aku menjadi pemain inti di film yang Tuhan buat

Aku bosan menjadi figuran terlalu lama

Aku mau Tuhan kembali melirikku

Aku muda, aku kuat, aku semangat, Tuhan tau itu aku

Aku berharap Tuhan percaya aku

Aku tak memaksa, ini cuma keinginan, aku terus mengasah belatiku

Aku tetap menjadi pemain, aku tak ingin merebut kursi sutradara milikMU

Biarlah skenarioMU menjadi film terbaik untuku


Coca-Cola.

Tak jelas kapan pertama kali aku menjadi penggemar minuman ringan ini. Mungkin pada saat bayi dulu, Ibuku malas menyusuiku dan malah memberikan sebotol coca-cola untuku. Adrenalin ku meningkat ketika meneguknya, syarafku seolah mengendur ketika mencium aromanya. Minuman ringan yang dicptakan Dr. Jhon S Pemberton ini paling sering kuteguk saat Manchester United bermain. Tegukan ku makin sering ketika Luis Valencia menyusur lewat sayap kiri permainan, memang minuman ini bagaikan morphine bagiku saat suasana sedang genting. 

Aku suka memperjelas aromanya ketika sendawaku meluncur dari tenggrokan, harum aromanya. Menurutku minuman ini tak ada pesaing berarti dari minuman-minuman ringan para pesaing pasarnya. Tanpa tambahan lemon dan hanya mengandalkan orisinalitas soda dan rasanya minuman ini bisa memberikan fantasi seperti di antartika ketika matahari sedang galak-galaknya. Wanita akan menjadi sexy bila membawa sekaleng minuman hitam pekat ini, entah mengapa kulihat demikian. Berbicara wanita, maka perbandingannya sama dengan wanita pembatik jika berbicara coca-cola dengan wanita dari sisi seksualitas mereka.




Saran ku, sesekali cobalah meminumnya ketika malam sunyi dan ditambah musik dari band-band britpop seperti Blur,Oasis, Radiohead ataupun Pulp, untuk apa? kalian temukan sendiri jawaban ketika mencobanya. 


Kamis, 04 Oktober 2012

Hujan yang Mengingat

Akhirnya hujan turun juga, setelah lama dinantikan Raja semesta "mengucurkan" juga air kasih sayangnya. Hujan sore ini menemani pulang kuliahku di bis kota yang kondisinya tidak cukup baik ini. Bocor disana-sini membuat penumpang merelakan otot kakinya untuk kembali menopang tubuhnya. Saling bergantian turun naik penyanyi jalanan mengundi nasib, menambah hiruk pikuk sang raja jalanan ini. Diskusiku dengan seorang teman dan lampu yang remang-remang menambah nikmatnya suasana petang itu, tapi sayang harus kuakhiri perbincangan asyik itu.

Rupaya diluar masih gerimis, kuangkat hoodie keatas kepalaku. Hujan memang berkah, tapi menurutku tidak bagi penjaja kaki lima, mata mereka kosong, sesekali waja mereka menghadap langit, aku bisa baca pikirannya, apa lagi supaya berharap hujan ini berhenti dan kembali mereka bisa berburu Rupiah. Dalam jingga lampu jalanan ku berjalan ditepi. Masih dalam perasaan iba ku ingat bapak tua penjual kincir angin kecil. Bapak tua itu yang sudah berumur itu sering kutemui di tepi jalan Ciledug-Paninggilan (semoga kalian beruntung bisa menemuinya). Biar kudeskripsikan bagaimana sosoknya, umurnya kira-kira 70 tahun, Mengayuh sepeda tua, memakai peci yang tak jelas warna aslinya. Kincir angin yang ia jual pun sangat sederhana, hanya dari potong kecil bambu dengan beberapa sampul warna dibagian kincirnya dan ditambahkan bunyi-bunyian yang membuat anak-anak ingin memilikinya.

Bapak tua ini berjalan menjajakan dagangannya cukup jauh, ia memakai sepeda tetapi tak dikayuhnya, ia hanya duduk dan menghempaskan kakinya keaspal sedikit, perlahan, meter demi meter, karena kuperhatikan sepedanya tak memiliki rantai.

Tak sedikit pengendara melihat dan memberhentikan kendaraannya untuk membeli 2 atau 3 batang kincir angin, mungkin mereka iba karena tak tega melihat bapak kurus itu menjajakan dagangan dengan cara yang membuat mata ini tak ingin lama-lama menatapnya.

Timbul pertanyaan dalam kepalaku, kemana anaknya? apakah ia berkeluarga? bagaimana dengan istrinya?

Pada akhir akhir ini aku ingin menemui Bapak tua itu, tapi tak kutemukan lagi, Aku takut Bapak itu tersrempet mobil lalu mati, aku takut ia tak mampu lagi menghempaskan kakinya lagi dan yang aku paling takut kita tak bisa ambil contoh dari semangat beliau.

Pada judul "Patas AC" aku sudah menceritakan bagaimana aku mendapatkan pelajaran dari pengamen bis kota yang "mahir" bersyukur. Beruntunglah kita semua. Beruntung. Beruntung. Beruntung.